source: http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2010/07/30/tiba-tiba-aku-menangis/
Dua hari lalu, tatkala menarikan jari-jemari di atas papan ketik untuk membuat postingan Titip Rindu Buat Ibuku di Kompasiana,
tiba-tiba aku menangis. Tak terasa air mata yang lama tersimpan meleleh
di pipiku. Seorang teman yang memperhatikan aktivitasku sampai
terbengong-bengong, dan lirih menanyakan, “Mengapa mas menangis?”
Jawabku singkat, “Ingat ibuku.”
Aku tiba-tiba menangis, lantaran tengah menggoreskan kenangan bersama ibu dari sesobek catatan masa kecilku. Aku memang hanya mengenal tak seberapa lama akan sosok ibuku. Mengenal singkat kebahagiaan yang pernah ia reguk, tetapi juga terentang cukup lama penderitaan yang ia alami karena penyakit yang dideritanya. Hingga akhirnya ia menghadap ke haribaan-Nya. Suatu episode hidup yang selalu terkenang-kenang dan sulit dilupakan.
Tentang
sosok ibu sendiri, penyair Kahlil Gibran pernah menulis esai singkat
menawan. Menurut Gibran, kata terindah yang terucap dari bibir manusia
adalah ibu, dan panggilan yang terindah adalah ibuku.
Selanjutnya dikatakan, ibu adalah segalanya –dia adalah penghibur kita dalam sedih, harapan kita dalam susah, dan sandaran kita tatkala lemah. Ia tandaskan, dia adalah sumber cinta, kebaikan, simpati, dan maaf. Orang yang kehilangan ibu akan kehilangan sebuah jiwa murni yang senantiasa menjaga dan memberkati.
Di akhir esainya, Gibran melukiskan dengan indah akan sosok ibu, “Dan
ibu, teladan segala keberadaan, adalah jiwa abadi, penuh dengan cinta
dan keindahan… Kata ibu tersembunyi di dalam hati, dan ia keluar dari
bibir di saat-saat sedih atau bahagia laksana harum yang keluar dari
jantung bunga-bunga yang merekah dan merebak, tatkala terang atau cuaca
mendung, di udara.”
Dengan demikian, jika tiba-tiba aku menangis tatkala menulis Titip Rindu Buat Ibu, maka itu sesuatu hal yang manusiawi. Begitulah kiranya….
*****
Sumber Gambar: http://www.free-extras.com
Posted by: |