source: http://lomba.kompasiana.com/group/ib-1000-tulisan/2010/07/29/titip-rindu-buat-ibuku/
Petikannya:Berbagi
kebahagian pada sesama, barangkali suatu sifat yang patut aku teladani dari
sosok ibuku. Kelak bertahun kemudian, aku dengar cerita menawan tentang ibu
dari bebarapa sepupu, kerabat dan tetanggaku di Jogya dan Klaten. Walau bukan
dari keluarga mampu, setiap pulang kampung, kata mereka, ibu acap menyelipkan lembaran-lembaran uang
kertas satu ringgit (Rp 2,5) kepada mereka sembari berkata ramah dan
menyunggingkan senyum. Bukan soal sedikit atau banyaknya yang diterima, namun
mereka melihat ada ketulusan di balik pemberian itu. Terus terang aku bangga
mendengar cerita tentang kemurahan ibuku itu.
Tiga
puluh tahun lebih telah berlalu, aku Titip Rindu Buat Ibuku. Ingin rasanya aku
bertemu, sekalipun itu hanya dalam mimpi. Aku ingin bersimpuh di pangkuanmu,
sembari memohon maaf dan berterima kasih kepadamu. Ingin pula aku kecup kening
dan sentuh jari-jemari tangan halusmu… Walau hanya mengenal sosoknya tak
terlalu lama, ada suri teladan yang ditinggalkannya. Dan menjadi warisan tak
ternilai harganya. Membekas di lubuk hati.
Warisan
tak ternilai harganya dari ibuku bukan muncul dari kata-kata yang terucap.
Namun dari bahasa tubuh dan tindakan nyata yang pernah aku saksikan dari
sejengkal kenangan bersamanya. Ia seakan-akan lirih berucap, “Anakku, dalam
hidup di dunia yang sebentar ini, dalam keadaan apapun engkau harus berbagi
kebahagiaan pada sesama. Engkau wajib peduli pada lingkungan sekelilingmu. Apa
saja sesuatu kelebihan pada dirimu, bagikanlah untuk orang lain. Terlebih bagi
membutuhkan. Jika engkau memiliki rezeki
banyak atau sedikit, janganlah pelit berbagi. Pun ilmu yang engkau dapatkan,
tularkan pada yang lain. Dan janganlah engkau mengharapkan datang balasan dari
sikap pedulimu itu. Tuhan tidak pernah tidur, dan engkau akan dapat balasan
setimpal dari-Nya tanpa engkau mengetahui apa, bilamana dan bagaimana semuanya
itu datang."
Sumber Gambar: http://washingtonprintmakers.com
*****
Posted by: |