Tatkala diumumkan sebagai pemenang hadiah Nobel Sastra pada 23 Oktober 1969, Samuel Becket berusia 63 tahun. Menurut Akademi Swedia hadiah itu dianugerahkan kepadanya, lantaran karya-karyanya yang berbentuk baru diusahakan untuk mengangkat derajat manusia dari kedudukannya yang serba sulit.
Tidak berdaya, dihinggapi kegetiran hidup, terasing dari lingkungan sosialnya dan dalam keadaan nyaris putus asa, demikianlah jika kita menyaksikan aktor-aktor yang digambarkan oleh Samuel Becket di dalam En Attendent Godot, yang diterjemahkan sendiri dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Inggris menjadi Waiting for Godot (Menunggu Godot). Karya yang sedang kita kupas ini tidak seberapa tebal dalam bentuk buku. Namun demikian, dalam pertunjukan-pertunjukan awalnya, lakon Menunggu Godot ini telah menggemparkan masyarakat.
Tahukah pembaca, buku Waiting for Godot yang kali pertama diterbitkan pada 1952 oleh penerbit “Grove Press“, pada tahun pertama hanya laku terjual kurang lebih 400 eksemplar. Itupun sebagian besar diborong oleh Beckett sendiri sebagai hadiah kepada teman-temannya. Barney Rosset, pemilik “Grove Press“, sedari awal ogah-ogahan memenuhi permintaan Beckett agar buku tersebut dicetak ribuan eksemplar. Sebab, ia berpikiran bahwa proyek penerbitan buku itu akan gagal total.
Nyatanya, pementasan drama Menunggu Godot menuai sukses di mana-mana. Mendapat sambutan menghebohkan dari khalayak, dan lebih-lebih liputan luas dari media massa dengan segala pro dan kontranya. Setarikan nafas dengan itu, dampak berikutnya mulailah khalayak luas yang penasaran berbondong-bondong membeli buku Menunggu Godot. Hanya dalam waktu singkat, sebagaimana ditulis Zuma World, barulah Barney Rosset menyadari bahwa ia telah menjual lebih dari 2 juta eksemplar buku!
Untuk membaca lengkap silakan klik tautan ini: http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2011/06/11/menunggu-godot-samuel-beckett/
*****
Sumber Ilustrasi Gambar: http://zumaworld.blogspot.com
Posted by: |