Source: Merawat Memori Skandal Gila Bank Century Dwiki Setiyawan's Blog
Bambang
Soesatyo,
Skandal Gila Bank Century: Mengungkap yang Tak Terungkap Skandal
Keuangan Terbesar Pasca Reformasi; pengantar Prof DR Mahfud MD; —
Jakarta: Ufuk Press, 304 halaman, Cetakan I April 2010 .
Membaca
halaman demi halaman buku ini, pembaca seolah diajak penulisnya untuk Merawat
Memori Skandal Gila Bank Century. Mengapa? Karena sebagai
bangsa, sudah jamak kita rasakan dan alami betapa pendeknya memori kita
atas suatu isu atau peristiwa besar apapun yang datang silih berganti.
Pula kebiasaan kita, suatu isu atau peristiwa besar mudah sekali
dilupakan dari memori tatkala tertimpa peristiwa besar lainnya. Tanpa
adanya suatu penyelesaian atas peristiwa besar itu secara menyeluruh. Di
sinilah arti penting kehadiran buku Skandal Gila Bank Century
ini: merawat memori publik atas skandal keuangan terbesar
pasca-reformasi tersebut. Sekaligus tersirat harapan dari penulisnya
agar skandal itu berbuah penyelesaian menyeluruh.
Ditulis oleh inisiator sekaligus anggota Pansus Century DPR-RI Periode
2009-2014, Bambang Soesatyo, buku Skandal Gila Bank Century ini
merupakan sebuah catatan cukup lengkap atas skandal dimaksud namun
hakikatnya sebuah buku yang “belum selesai”. Dikatakan “belum selesai”
lantaran masih berlanjut dan berlarut-larutnya penyelesaian atas skandal
tersebut sejak Rapat Paripurna DPR-RI yang berlangsung dramatis pada
Rabu (3 Maret 2010) memutuskan pilihan Opsi C. Pada intinya Opsi C
menyatakan bahwa proses “bail out” bank Century bermasalah.
Sebaliknya lawan kubu Opsi C, yakni Opsi A menyatakan kebijakan “bail
out” itu tidak bermasalah.
Melalui
pemungutan suara dalam dua babak, akhirnya mayoritas anggota DPR-RI
memilih Opsi C. Sebanyak 325 anggota DPR-RI (dari 537 anggota yang
hadir) dan enam fraksi memilihnya. Hanya 212 anggota dari tiga fraksi
yang memilih Opsi A. Karenanya sesuai dengan rumusan dalam Opsi C,
DPR-RI menyatakan ada lima kesimpulan dan lima rekomendasi terkait
dengan kasus Bank Century.
Lima
poin Kesimpulan Opsi C Pansus Century terdiri dari:
Pertama, pengucuran dana FPJP dan PMS ke Bank Century adalah
termasuk keuangan negara.
Kedua,
patut diduga terjadi penyimpangan dalam proses pengambilan kebijakan
oleh otoritas moneter dan fiskal yang diikuti banyak penyalahgunaan,
mulai dari akuisisi-merger, pemberian FPJP, PMS, hingga tahap aliran
dana.
Ketiga,
diduga terjadi penyimpangan proses pengambilan kebijakan oleh otoritas
moneter dan fiskal dengan mengikutsertakan pemilik saham dan manajemen
Bank Century sehingga merugikan negara. Kepada pihak yang diduga
bertanggung jawab, F-PG, F-PDIP, F-PKS dan F-Hanura menyebut nama. F-PPP
sebut unit kerja dalam institusi, dan F-Gerindra sebuah pejabat yang
bertanggung jawab. Daftar nama terlampir.
Keempat,
kasus Bank Century merupakan perbuatan melanggar hukum yang berlanjut
atau penyalahgunaan wewenang oleh pejabat otoeritas moner dan fiskal
sehingga dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi karena
diduga merugikan negara.
Kelima,
berkenaan dengan dugaan mengalirnya dana PMS ke sebuah parpol atau
suatu pasangan capres-cawapres tertentu, Pansus belum dapat
menuntaskannya karena keterbatasan waktu dan wewenang pro-justicia
Sedangkan
lima poin Rekomendasi Opsi C Pansus Century terdiri
dari:
Pertama,
perekomendasikan seluruh penyimpangan yang berindikasi tindak pidana
korupsi, umum, dan perbankan serta pihak-pihak yang bertanggung jawab ke
penegak hukum.
Kedua,
meminta DPR bersama pemerintah merevisi perundang-undangan di sektor
moneter dan fiskal.
Ketiga,
pulihkan aset yang diambil tidak sah oleh pengelola Bank Century yang
merugikan bank dan negara oleh Robert Tantular, Hesyam al Warraq, dan
Rafat Ali Rizvi sebagai pemilik saham. Pemulihan aset didahului forensik
dari kantor akuntan publik yang berafiliasi internasional dengan
pengawan tim monitoring pansus.
Keempat,
meminta DPR mengawasi rekomendasi dan penelusuran aliran dana dan
pemulihan aset recovery pada masa sidang berikutnya.
Kelima,
meminta pemerintah menyelesaikan masalah nasabah Antaboga Delta
Sekuritas dengan mengajukan ke DPR pola penyelesaiannya secara
menyeluruh.
Bagian
mengenai Kesimpulan dan Rekomendasi Opsi C di atas
dipaparkan oleh penulisnya pada epilog buku Skandal Gila Bank
Century (sekedar catatan: buku ini nampaknya mendapat
sambutan hangat publik terbukti dengan cetak ulang ke-2 pada Mei 2010
lalu).
****
Ditulis
secara kronologis, Bambang Soesatyo hemat saya berhasil menghidupkan
jiwa suatu peristiwa yang dialaminya sendiri dalam buku ini dengan
bahasa lugas, mengalir, terjaga ritme, terang benderang dan apa adanya.
Seolah dengannya pembaca turut serta mengalami sendiri kepingan-kepingan
peristiwa atas skandal keuangan terbesar pasca-reformasi itu.
Terdiri
dari VIII Bab, ia mengawali tulisannya dengan prolog bertitel “Catatan
Seorang Wakil Rakyat”, dan intisari buku ia kupas pada epilog bertajuk
“Jangan Ada Toleransi Lagi”. Menyimak judul epilognya, ada pesan dengan
bahasa bersayap kepada para pembaca buku bahwa negeri ini sudah lelah
dengan muncul-tenggelamnya skandal-skandal segendang-penarian dengannya.
Dan ia berharap skandal serupa tidak terulang kembali.
Segi
lain kekuatan buku ini, Bambang Soesatyo lihai dalam memilih
kalimat-kalimat bernada provokatif dan merangsang bagi pembacanya
sebagai judul bab dan sub-bab. Misalnya ada bab dengan judul-judul: Awal
Ledakan Century, Angket Terbesar dalam Sejarah, Gagal Sejak Awal
Berdiri, Kebun Sirih Selalu Melindungi dan seterusnya. Sementara
pada sub-bab, terpampang judul-judul antara lain: Diam-diam, karena
Krisis?, Para Pemula yang Tanpa Beban, Para Penumpang Gelap, Pendarahan
Tiada Henti, Air Mata di Kebun Sirih, Membaui Aroma Istana dan
sebagainya.
Tidak
kalah pula akan kelebihan buku Skandal Gila Bank Century
ini, yakni hadirnya pengantar dengan judul “Diduga Skandal Ternyata
Mega Skandal” dari Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi, sebagai sajian
makan pembuka yang lezat. Mahfud tidak ingin selera makan sidang pembaca
hilang lantaran siap sajinya rangkuman atau intisari dari buku ini.
Sebaliknya
ia berbicara sisi-sisi hukum atas skandal itu, dan yang lebih penting
kesan-kesan dia atas diri si penulis buku, Bambang Soesatyo:
…
Saya ingin mengatakan juga bahwa kehadiran Bambang Soesatyo di panggung
politik telah memberi warna positif bagi Partai Golkar, terlepas dari
soal kita setuju atau tidak setuju atas segala manuvernya. Fenomena
Bambang Soesatyo menunjukkan bahwa militansi untuk membongkar
ketidakberesan bukan hanya ada di kalangan parpol-parpol yang baru lahir
setelah reformasi melainkan juga ada di tubuh Partai Golkar yang kerap
dianggap konservatif sebagai penerus Orde Baru…. (halaman xii)
Sebagai
semacam jurnal –sebagaiman diakui sendiri penulisnya pada bagian
prolog– banyak catatan yang termaktub dalam buku ini sudah diketahui
publik. Hampir semua media cetak, elektronika dan internet laksana air
bandang mengabarkan kejadian-kejadian di seputar skandal Bank Century
tersebut. Namun demikian, banyak pula peristiwa-peristiwa baik besar
maupun kecil yang dialami penulisnya yang selama ini belum terekspos
media massa, terekam dengan jernih di buku Skandal Gila Bank
Century.
Kini
saatnya saya memberi catatan subyektif atas kekurangan buku ini. Dari
sisi substansi isi buku tidak ada masalah. Saya hanya merasa terganggu
oleh “ramainya” teks-teks sub-judul buku pada sampul muka. Terkesan
penuh oleh deretan teks kalimat yang sesungguhynya tidak perlu. Demikian
pula banyaknya endorsement para tokoh di sampul belakang buku.
Sepanjang yang saya tahu, buku-buku sukses peredaran di luar negeri,
hanya satu-dua saja terpampang endorsement. Toh, tanpa deretan teks
kalimat yang memenuhi sampul muka dan kutipan-kutipan tokoh pada sampul
belakang, buku ini ‘menjual’. Di samping, tetap enak dibaca dan perlu.
***
Sudah
semestinya kita angkat topi pada Politisi Partai Golkar, Bambang
Soesatyo, yang dengan piawai menggoreskan kesaksiannya melalui buku Skandal Gila Bank Century ini. Tak
banyak politisi kita di Indonesia yang memiliki kemampuan dan
ketrampilan menuangkan gagasan atau pengalamannya ke dalam bentuk buku
seperti ini. Padahal, tunas-tunas bangsa calon pemimpin Indonesia
mendatang membutuhkan asupan intelektual dan wawasan politik yang
memadai dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Salah satu transfer wawasan
politik itu didapatkan dari dokumen-dokumen tertulis yang tersedia. Buku
semacam yang ditulis Bambang Soesatyo tersebut, satu dokumen tertulis
diantaranya.
Di
awal-awal tulisan ini dikatakan bahwa buku Skandal Gila Bank
Century sebagai sebuah buku yang “belum selesai”. Lantaran
masih berlangsungnya proses atas tindaklanjut kesimpulan dan rekomendasi
Rapat Paripurna DPR-RI pada 3 Maret 2010 lalu. DPR-RI pun telah
membentuk Tim Pengawas Hasil Rekomendasi Century beberapa waktu lalu,
dan hingga hari ini masih bekerja. Bambang Soesatyo juga masuk tim
pengawas tersebut. Apapun akhirnya, saya yakin ia akan melanjutkan dan
‘”menyelesaikan” penulisan jilid berikutnya buku Skandal Gila
Bank Century yang telah sekilas saya tinjau ini….
*****
Recent Comments